Pengamat Politik Riau: Saling Hujat, Merusak Alat Kampanye Berarti Tidak Paham Berdemokrasi
KANALSUMATERA.com - Saling hujat dan maraknya perusakan alat peraga kampanye menjelang Pemilu 2019 dinilai karena kurangnya kesadaran terhadap berdemokrasi.
Pengamat Politik dari Riau, Peri Pirmansyah mengatakan munculnya budaya saling hujat serta perusakan alat peraga kampanye (APK) pada prinsipnya adalah karena oknum pelaku yang secara politis memiliki kerendahan tingkat pemahanan terhadap dinamika politik.
"Budaya saling hujat ini merusak demokrasi. Juga pertempuran APK ini tidak baik dan seharusnya tidak terjadi peperangan APK. APK ini ditentukan tempatnya jadi tidak bisa diklaim bahwa itu milik pribadi. Kalau memahami politik tidak akan ada pengerusakan APK," ujarnya seperti dikutip dari cakaplah.com, Rabu (9/1/2019).
Pria yang juga merupakan dosen di salah satu universitas negeri di Riau ini juga mengatakan bahwa roh demokrasi adalah pilihan. "Karena beda pilihan lalu ada APK yang dirusak, padahal roh demokrasi itu didasarkan oleh pilihan," cakapnya lagi.
Baca: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Syahrul Aidi Gandeng Insan Pers dan Mubalig Kampar
Peri juga menilai, saat ini terindikasi caleg ataupun tim sukses yang sengaja merusak APK milik lawannya karena takut bersaing.
Peri bahkan menanyakan apakah caleg ataupun tim sukses yang melakukan tindakan tersebut paham terhadap demokrasi.
"Caleg yang berpikiran dendam harus dipertanyakan, apakah dia memang paham demokrasi atau tidak. Kalau merebut hati masyarakat ya harus diyakini dengan visi dan misi juga harus meyakini dengan cara sendiri dan metode sendiri," tukasnya. iin
