Mantra Usai Pilpres

Alwira Fanzary
Minggu, 28 April 2019 22:57:39
Ilustrasi

HASIL quick count (QC) yang sudah sepekan lebih memenangkan paslon Jokowi-Ma'aruf tak semerta-merta meyakinkan pendukungnya. Keraguan masih menyelimut.


Apa benar QC lembaga-lembaga survei ini tepat?

Itulah kira-kira pertanyaan yang berkelindan dibenak partai pendukung petahana. Wajar.


Apalah tidak. Berbulan-bulan mereka dilambungkan oleh berderet lembaga survei. Dengan angka selisih jauh dari apa yang didedah saat ini. Keunggulan 20 persen lebih. Menjadi hanya 6 sampai 9 persen. Selisih yang membuat dahi mengkerut.

Bahkan, angka kemenangan yang digdaya itu masih di-publish beberapa hari sebelum Pilpres. 'Tak akan ada perubahan signifikan' kata lembaga survei meyakinkan induk semangnya.

Baca: PDIP Respons Wacana Capres Minimal Didukung Dua Fraksi di DPR

Pada ujungnya, keraguan kubu 01 ini akan bermuara pada keraguan lain: jangan-jangan keunggulan yang dihidangkan itu pada faktanya berakhir kepada angka minus. Alias kalah. Tapi tarung belum usai. Strategi berlanjut.

Sadar nian kemenangan Pilpres adalah dominasi angka, maka segala potensi bentuk angka-angka yang memenangkan harus masif dijejal ke khalayak. Ilmiah atau persepsi, itu belakangan.

Maka penting menghujani media dengan angka QC. Yang penting masyarakat tahunya paslon 01 menang. Hanya itu misinya. Sampai di semprit KPI.

TKN putar otak. Harus ada data angka-angka lain yang tetap harus tayang tanpa henti di media televisi seperti QC. Maka, real count (RQ) Situng KPU yang bejibun salah itu akhirnya dipilih untuk dijejal di media mainstream. Mengganti QC.

Apakah lagi persentase keunggulan sementara di RQ Situng KPU lebih kurang sama dengan QC. Dengan data yang masuk, atau yang dipercepat masuk dari daerah basis pendukung Jokowi-Maruf: Jateng dan Jatim. Entah kenapa. Atau entah oleh siapa menjadi seperti itu.

Baca: Zulhas Tak Mau Nyapres 2029, PAN Tegaskan Tetap Dukung Prabowo

Jabar dan Banten, bahkan Jakarta yang basis suara paslon 02 nampaknya masih tercecer atau mungkin dicecerkan untuk dimasukkan di Situng KPU. Atmosfer keunggulan di QC harus dipertahankan. Berestafet QC ke RQ.

Tak cukup dengan mantra angka-angka. Kubu 01 yang juga penguasa saat ini memberdayakan segala sumberdaya negara. Ribuan pasukan brimob dari berbagai wilayah didatangkan ke ibu kota. Katanya untuk stabilitas keamanan nasional. Seakan-akan republik yang baru berpesta dalam keadaan darurat.

Tapi publik juga tidak begitu mudah percaya. Ini hanya dianggap sebagai strategi untuk menyampaikan kabar 'Sudah, daripada perselisihan berakhir pada kerusuhan, lebih baik terima saja apa adanya' itulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan.

Paslon 02 dan pengikutnya juga tidak tinggal diam. Mereka sadar tidak memiliki dan menguasai sumberdaya: dana, media, aparatur. Maka, menguasai ruang pembicaraan publik tetap harus dikuasai sebelum hasil penghitungan manual perjenjang usai.

Maka keluarlah seruan 'Mengamankan dan menjaga kemenangan' dari Kertanegara.

Baca: Hendry Munief: Indonesia Dirajut dari Pulau-Pulau, UU Daerah Kepulauan Memperkuat Kesatuan NKRI

Meski di saat yang sama tidak sepenuhnya Prabowo-Sandi meyakini benar-benar unggul dalam perolehan suara. Syukuran yang berulang itu penting. Sama pentingnya dengan membuka bobrok pelanggaran yang ada: menjaga semangat kemenangan bagi pengikut dan saksi di setiap jenjang tadi.

'Kalau tidak dicurangi. Kita menang 75 persen' kata Djoko Santoso. Ketua BPN. Yang dengan data internalnya Prabowo-Sandi unggul 62 persen.

Sahut-menyahut klaim kemenangan ini buah dari kepercayaan yang sudah pudar di negeri ini. Yang harusnya berada di tengah: aparatur negara, kaum cerdik pandai. Dengan posisi strategisnya sebagian dinilai tidak berdiri lagi pada posisinya. Buktinya terlalu banyak. Kecurigaan yang sama juga dilabuhkan ke penyelenggara.

Pemilu adalah gambaran dari nilai-nilai yang dianut masyarakat. Helat lima tahunan yang tidak hanya tentang memilih. Namun juga cerminan perilaku rakyat dan yang diberi amanah kekuasaan.

Kecurangan sebagian penyelenggara, peserta dan juga sebagian rakyat yang menikmati kecurangan itu adalah tragedi.

Baca: Kabinet Merah Putih Dirombak, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya sebagai Menkeu

Lalu apa yang diharap dengan pengelolaan negara ditangan eksekutif dan legislatif ke depan? Mustahil amanah akan dijalankan sepatutnya jika diperoleh dengan cara yang culas. Ini sangat merisaukan.

Pertanyaan lainnya. Revolusi mental apa yang ditransfer oleh rezim saat ini? Yang dulu digaungkan menjulang langit?

Dan yang terjadi saat ini terjawab sudah dengan apa dicakap baginda nabi ini 'Jika sesuatu tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran'.

Kehancuran yang dinikmati oleh segelintir orang. Sesaat.

Baca: Gerindra Bantah Gus Kikin-Miftahul Achyar Jadi Paket Istana untuk Pimpin PBNU

Alwira Fanzary Indragiri
Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R);
Wartawan



Terkait
Pengisian Kursi DPRD Masa Transisi: Usulan Diisi Suara Terbanyak Caleg Berikutnya Menguat
Pengisian Kursi DPRD Masa Transisi: Usulan Diisi Suara Terbanyak Caleg Berikutnya Menguat
Amal Fathullah Minta Komisioner KI dan KPID Riau Perkua
Sudaryono Tegaskan SD Rusak Tak Terkait MBG, Sebut Perb
Ketua BKSAP DPR Syahrul Aidi Tegaskan Komitmen Indonesi
Lainnya
Muswil IPM Sumbar XXI Resmi Dibuka di Solok, Ini Pesan Mendikbud Muhadjir Effendy
Muswil IPM Sumbar XXI Resmi Dibuka di Solok, Ini Pesan Mendikbud Muhadjir Effendy
Ini tanggapan Polresta Padang terkait temuan Ombudsman
Pemrov Bengkulu Tindaklanjuti Dugaan Pelanggaran Amdal
Bawaslu Riau Ekspos Hasil Pengawasan Kepada 72 Insan Pe
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Hukum
RUU Perampasan Aset Dibahas, Advokat Soroti Integritas Aparat Penegak Hukum
RUU Perampasan Aset Dibahas, Advokat Soroti Integritas Aparat Penegak Hukum
Sebelum Jual Konten Asusila, Dua Pria di Bogor Ternyata
Polisi Temukan Vape Etomidate Bekas Pakai di Apartemen
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I