PDIP Respons Wacana Capres Minimal Didukung Dua Fraksi di DPR

Kanama
Minggu, 20 September 2026 19:52:18

KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Wacana perubahan mekanisme pencalonan presiden kembali menjadi perhatian setelah muncul usulan agar pasangan calon presiden dan wakil presiden minimal memperoleh dukungan dari dua fraksi di DPR.

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Sitorus mengatakan partainya tidak mempermasalahkan wacana tersebut. Namun, menurut dia, pembahasan lebih lanjut perlu menunggu naskah akademik dan draf revisi Undang-Undang Pemilu.

"Kita tunggu saja naskah akademisnya. Sekarang ini kan semuanya masih bersifat wacana saja, terlalu pagi untuk direspons," ujar Deddy kepada wartawan, Minggu (20/09/2026).

Baca: Survei PPI Ungkap Tiga Pejabat Berkinerja Terbaik, Amran Unggul dari Teddy dan Erick

Deddy menilai usulan dukungan minimal dua partai atau fraksi dapat dikaitkan dengan sistem pemerintahan Indonesia yang menganut sistem presidensial.

"Membuat syarat dua partai pendukung calon menurut saya dari sisi praktis tidak masalah. Sebab negara kita menganut sistem presidensial sehingga capres tanpa dukungan partai di parlemen akan kesulitan menjalankan roda pemerintahan," katanya.

Baca: Jokowi Sebut Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran sebagai Operasi Politik

PDIP Soroti Potensi Banyaknya Calon Presiden

Selain alasan dukungan politik di parlemen, Deddy juga menyinggung ketentuan dalam undang-undang yang menempatkan partai politik sebagai peserta pemilu.

Menurutnya, mekanisme dukungan tertentu dalam pencalonan presiden berpotensi membatasi jumlah kandidat sehingga proses pemilu tidak diikuti terlalu banyak calon.

Baca: Kepemudaan PKS Riau Sukses Gelar Akademi Pemimpin Muda Indonesia (APMI) , Target Cetak Pemimpin Muda

"Selain itu UU yang ada juga masih menyatakan peserta pemilu adalah partai politik. Hal itu juga bisa mengurangi banyaknya calon yang berimplikasi pada banyaknya calon independen yang tidak terbatas sehingga biaya yang dikeluarkan negara menjadi sangat besar, serta berpotensi membuka ruang konflik dalam proses kampanye," kata dia.

Meski demikian, Deddy menegaskan bahwa PDIP masih menunggu formulasi resmi yang nantinya dituangkan dalam revisi UU Pemilu.

Baca: Baleg DPR Kaji Usulan Penambahan Kursi DPRD DKI, Aspirasi Warga Jadi Sorotan

"Apapun itu mari kita tunggu saja naskah akademik dan draf revisi UU-nya," tambah Deddy.

Surya Paloh Sebut Ada Usulan Dukungan Dua Fraksi

Wacana tersebut sebelumnya disampaikan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Ia mengaku mendengar adanya masukan mengenai perubahan model presidential threshold setelah aturan sebelumnya mengalami perubahan.

Baca: Cawapres Prabowo 2029 Mulai Dibahas, Sejumlah Nama Mulai Mencuat

"Saya mendengar ada masukan yang jelas, bahwasanya pergantiannya model daripada dukungan pada presiden itu adalah berdasarkan dukungan sedikit-dikitnya dua fraksi," kata Paloh kepada wartawan di NasDem Tower, Gondangdia, Jakarta Pusat, Sabtu (19/09/2026).

Paloh menilai skema tersebut pada dasarnya dapat menjadi salah satu model dalam menentukan dukungan terhadap pasangan calon presiden.

Baca: Gerindra Bantah Gus Kikin-Miftahul Achyar Jadi Paket Istana untuk Pimpin PBNU

"Menurut saya itu baik, sama saja sebenarnya. Dua fraksi kalau parliamentary threshold-nya tinggi kan, suaranya tinggi juga kan ya," ungkap Paloh.

Untuk saat ini, ketentuan dukungan minimal dua fraksi tersebut masih sebatas wacana. Pembahasan mengenai perubahan aturan pencalonan presiden selanjutnya akan bergantung pada naskah akademik dan draf revisi UU Pemilu. (SM)



Terkait
Golkar Tegaskan Menteri Harus Siap Kerja, Doli: Urus Negara Tak Kenal Hari Libur
Golkar Tegaskan Menteri Harus Siap Kerja, Doli: Urus Negara Tak Kenal Hari Libur
Samsuri Daris Tegaskan Komitmen Pidato Plt Gubri pada Â
Hendry Munief Serap Aspirasi Komunitas MTB FORBIS Riau,
Syahrul Aidi Sosialisasi Empat Pilar di Hadapan Ratusan
Lainnya
Ketua PGI Jacky Manuputty Ungkap Alasan Absen Pelantikan Wantimpres
Ketua PGI Jacky Manuputty Ungkap Alasan Absen Pelantikan Wantimpres
Harga TBS Sawit Riau Alami Kenaikan Tertinggi di Indone
Wow, Pedagang Kue di Bengkalis Temukan Sabu Seberat 18,
Utang Negara Kembali Membengkak, Capai 4.418,3 Trilliun
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Hukum
dr Tifa Soroti Transkrip Nilai Jokowi, Pertanyakan Riwayat Kuliah Semester 7 hingga 10 di UGM
dr Tifa Soroti Transkrip Nilai Jokowi, Pertanyakan Riwayat Kuliah Semester 7 hingga 10 di UGM
GEMA Keadilan Riau Desak Polda Usut Tuntas 22 Kasus Maf
MUI Apresiasi Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo Buntut P
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind
Nasional
Pramono Anung Tegaskan Jakarta Tidak Siaga 1, Pengerahan Prajurit TNI Jadi Sorotan
Pramono Anung Tegaskan Jakarta Tidak Siaga 1, Pengerahan Prajurit TNI Jadi Sorotan
Mike Johnson Mundur dari Pimpinan Partai Republik Usai
Jokowi Bersaksi di Sidang Roy Suryo, 6.770 Personel TNI
Kriminal
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Kapolri Bongkar Penyelundupan 1 Ton Ketamin di Belawan,
Bharada Andika Jadi Tersangka Kasus Polisi Tembak Polis