Syukur Mandar Dorong Prabowo Pimpin Revolusi Modern untuk Benahi Indonesia
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Presiden Gerakan Oposisi Syukur Mandar mendorong Presiden Prabowo Subianto mengambil peran lebih besar dalam melakukan perubahan mendasar di Indonesia. Menurutnya, pembenahan berbagai persoalan nasional membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan keberanian untuk mengubah sistem yang dinilai bermasalah. Sabtu (29/08/2026).
Syukur menyampaikan pandangan tersebut saat membahas kondisi Indonesia dan arah perubahan yang diperlukan dalam sebuah siniar To The Point Aja yang ditayangkan melalui YouTube SindoNews.
Ia menilai ukuran kemajuan suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer. Pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, kualitas pendidikan, serta kekuatan masyarakat sipil juga menjadi indikator penting dalam menentukan kemajuan sebuah negara.
Baca: Pengisian Kursi DPRD Masa Transisi: Usulan Diisi Suara Terbanyak Caleg Berikutnya Menguat
Dalam pandangannya, Indonesia masih menghadapi persoalan serius, salah satunya terkait lapangan pekerjaan. Syukur menyoroti banyaknya lulusan perguruan tinggi, termasuk jenjang S1, S2, dan S3, yang masih harus menunggu kesempatan kerja.
Di sisi lain, ia menilai terdapat sejumlah pekerjaan yang semestinya dapat diberikan kepada masyarakat sipil, tetapi justru diberikan kepada instrumen pertahanan dan keamanan.
Baca: Empat Arahan Presiden PKS Saat Silaturahmi dengan Ribuan Kader di Pekanbaru
Atas kondisi tersebut, Syukur menyebut perubahan besar diperlukan agar sistem pemerintahan dan pembangunan nasional dapat berjalan sesuai dengan cita-cita kemerdekaan.
"Saya selalu teriak perlu revolusi dan presiden harus memimpin revolusi," ujar Syukur Mandar dalam siniar atau podcast To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Sabtu (29/08/2026).
Syukur Sebut Revolusi Tak Harus dengan Kekerasan
Baca: PKS Riau Launching “Riau Muda Bicara”, Wadah dan Ruang Anak Muda Sampaikan Gagasan
Syukur kemudian menjelaskan bahwa istilah revolusi yang dimaksud bukan perubahan melalui kekerasan atau pertumpahan darah. Ia justru mendorong konsep revolusi modern yang melibatkan pertemuan antara aspirasi masyarakat sipil dan kemauan elite politik.
"Kenapa kita tidak bicara revolusi modern. Revolusi modern bisa terjadi kalau keinginan civil society dan kemauan elite bertemu pada satu kutub. Atas dasar apa? Atas dasar cita-cita negara dan meluruskan cita-cita kemerdekaan. Semua harus sadar dong," jelasnya.
Baca: Sudaryono Tegaskan SD Rusak Tak Terkait MBG, Sebut Perbandingan dengan Dapur SPPG Tidak Fair
Menurut Syukur, arah perubahan tersebut perlu dikembalikan pada cita-cita negara sebagaimana tercantum dalam konstitusi.
Ia juga menyinggung Pasal 33 UUD 1945 yang kerap disampaikan Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan. Bagi Syukur, ketentuan tersebut merupakan salah satu landasan penting dalam mengatur perekonomian dan pengelolaan sumber daya negara.
"Negara hidup di situ dan negara menghidupi rakyat dari situ. Itu substansi Pasal 33. Kan kita bicara tiga hal kalau dalam Pasal 33. Satu, ekonomi keluarga, (dua) cabang produksi dikuasai, (tiga) sumber daya alam dikuasai, prinsipnya," jelasnya.
Baca: Kemah Bela Negara PKS Riau: Mengokohkan Akar Kebangsaan dari Hutan Kampar
Pemimpin Dinilai Harus Berani Membenahi Sistem
Syukur juga menekankan pentingnya keberanian seorang presiden dalam menghadapi persoalan yang muncul dari sistem pemerintahan. Ia menilai pemimpin yang memiliki keberpihakan kepada rakyat seharusnya mampu melakukan pembenahan terhadap sistem yang dianggap tidak sehat.
Baca: Ketua DPD PKS Kampar Fahmil SE Titip Doa untuk Kemajuan Daerah Kepada Jamaah Haji Kampar
"Presiden yang baik, akan mampu memberantas siapa pun mafia sistem yang busuk. Kalau dia baik dan dia punya keberanian, dia bisa menghabisi semua orang yang meskipun dalam sistem yang busuk, dia pasti menang, dia punya kekuasaan," ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan seorang presiden dalam melakukan perubahan tidak hanya bergantung pada kondisi sistem yang ada. Kemauan politik dan dukungan masyarakat juga dinilai menjadi faktor penting.
"Presiden yang tidak punya niat baik, berpikir kelompok, dalam sistem yang baik sekalipun, akan hancur."
Baca: Saat Sosialisasi Empat Pilar, Syahrul Aidi Maazat Inisiasi Revisi UU Penanganan Fakir Miskin
Pernyataan Syukur tersebut menempatkan gagasan revolusi modern sebagai perubahan sistemik yang menurutnya perlu diarahkan pada penguatan kesejahteraan masyarakat, kesempatan kerja, pengelolaan sumber daya alam, serta pelaksanaan cita-cita kemerdekaan. (SM)
