JEJAK POLITIK EDI BASRI: Dari Politik sebagai Ibadah Menuju Politik Kebangsaan
Oleh: Edi Basri
Anggota DPRD Provinsi Riau
Fraksi Partai Gerindra
Bagi saya, politik bukanlah jalan untuk mencari kekuasaan semata. Politik adalah jalan pengabdian. Politik harus memiliki nilai, harus memiliki tujuan, dan pada akhirnya harus memberi manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan saya memasuki dunia politik pun tidak terjadi secara tiba-tiba.
Sebelum mengenal politik kepartaian, saya merupakan bagian dari organisasi kepemudaan AMPI, organisasi yang memiliki kedekatan historis dengan Partai Golkar. Saya pernah dipercaya menjadi Ketua AMPI Kecamatan Tapung. Namun ketika itu saya belum memilih untuk menjadi kader Partai Golkar.
Saya juga pernah mendapat tawaran untuk masuk dalam kepengurusan PDI Perjuangan Kabupaten Kampar. Kesempatan lain datang ketika saya diajak teman untuk bergabung dalam kepengurusan PAN Kecamatan Bukit Raya. Saya bahkan pernah hadir dalam satu kali rapat.
Baca: Usai Putusan MK, Gibran Dihadapkan pada Opsi Mundur atau Mekanisme Pemberhentian
Tetapi saat itu hati saya belum terpanggil untuk benar-benar masuk ke dalam dunia politik.
Titik Balik: Partai Bintang Reformasi
Titik balik perjalanan politik saya terjadi pada tahun 2001, ketika lahir Partai Bintang Reformasi (PBR).
Bagi saya, PBR bukan sekadar sebuah partai politik baru. Ada sosok yang sangat kuat menjadi inspirasi saya ketika itu, yaitu KH Zainuddin MZ( almarhum)seorang ulama dan tokoh dakwah yang sangat kharismatik.
Ada satu semangat yang sangat melekat dalam diri saya:
“Politik untuk ibadah.”
Baca: Gema Keadilan Riau Perkuat Barisan Pemuda, Tujuh DPD se-Riau Resmi Dilantik
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya memiliki makna yang sangat dalam.
Politik tidak boleh hanya menjadi sarana memperoleh jabatan. Politik harus menjadi ruang untuk memperjuangkan kebaikan, membela masyarakat, memperjuangkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan.
Karena itulah ketika PBR lahir dengan KH Zainuddin MZ (Almarhum) sebagai salah satu tokoh ikonnya, saya merasa inilah momentum yang membuat saya terpanggil untuk terjun secara sungguh-sungguh ke dunia politik.
Saya all out.
Dan Allah memberikan jalan.
Pada Pemilu 2004, saya ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan Alhamdulillah terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Riau.
Bagi saya, kemenangan itu bukan sekadar kemenangan pribadi. Itu adalah amanah besar dari masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Baca: Prabowo Lantik Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Ini Susunan Barunya
Ketika Jalan Politik Mengalami Ujian
Dalam perjalanan berikutnya, PBR mengalami dinamika dan konflik internal. KH Zainuddin MZ kemudian keluar dari PBR, sementara perkembangan politik berikutnya membuat PBR tidak mampu mencapai parliamentary threshold.
Saya pun kembali berada pada persimpangan perjalanan politik.
Namun pengalaman bersama PBR meninggalkan sesuatu yang sangat berharga dalam diri saya: keyakinan bahwa politik harus memiliki nilai moral dan spiritual.
Saya belajar bahwa partai bisa berubah, struktur bisa berubah, tokoh bisa datang dan pergi, tetapi prinsip perjuangan tidak boleh kehilangan arah.
Baca: Komisi III DPR Sepakati Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri, Berlanjut ke Paripurna
Menemukan Semangat Nasionalisme Bersama Gerindra
Dalam perjalanan berikutnya, saya memilih bergabung dengan Partai Gerindra.
Ada sosok lain yang kemudian menjadi sumber inspirasi saya: Bapak Prabowo Subianto.
Jika dari KH Zainuddin MZ saya mendapatkan inspirasi tentang politik sebagai ibadah dan tanggung jawab moral, maka dari pk Prabowo saya menemukan energi tentang nasionalisme, kemandirian bangsa dan keberanian memperjuangkan kepentingan Indonesia.
Semangat yang saya tangkap dari perjuangan pk Prabowo adalah bagaimana Indonesia harus berdiri di atas kekuatannya sendiri, mengelola kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, memperkuat ekonomi nasional, serta membangun pertahanan negara yang kuat.
Gagasan tentang mengembalikan kekayaan Indonesia yang selama ini banyak mengalami kebocoran, membangun Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia dan memperkuat pertahanan nasional, menjadi bagian dari semangat kebangsaan yang saya jadikan inspirasi.
Baca: PKS Tanggapi Elektabilitas 3,3 Persen, Sebut Hasil Survei Sangat Dinamis
Bagi saya, nasionalisme bukan hanya berbicara tentang mencintai Indonesia.
Nasionalisme adalah keberanian untuk memperjuangkan agar rakyat Indonesia benar-benar merasakan kekayaan negerinya sendiri.
Dua Tokoh, Dua Energi Perjuangan
Kalau saya melihat kembali perjalanan politik saya, ada dua sosok yang memberikan warna sangat kuat dalam perjalanan tersebut.
KH Zainuddin MZ memberikan saya fondasi spiritual.
Bahwa politik harus mempunyai nilai ibadah. Jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukan tujuan akhir. Seorang politisi harus mempertanggungjawabkan setiap keputusan kepada rakyat dan kepada Allah SWT.
Baca: Zulhas Tak Mau Nyapres 2029, PAN Tegaskan Tetap Dukung Prabowo
Sementara pk Prabowo Subianto memberikan saya energi nasionalisme.
Bahwa Indonesia harus berdaulat, kuat, mandiri dan mampu mengelola kekayaan nasional untuk kepentingan rakyat.
Dari satu sisi saya belajar:
“Politik harus bernilai ibadah.”
Dari sisi lain saya belajar:
“Politik harus mempunyai keberanian membela kepentingan bangsa dan negara.”
Dua nilai inilah yang kemudian saya coba bawa dalam perjalanan saya sebagai anggota DPRD Provinsi Riau.
Dari Tapung untuk Riau
Saya lahir dari perjalanan masyarakat Riau, dari lingkungan yang memahami bagaimana rakyat bekerja keras mencari kehidupan.
Baca: Ganjar Minta Gerindra Fokus Rakyat Sebelum Bicara Pilpres 2029
Karena itu, ketika saya berada di lembaga legislatif, saya tidak ingin lupa dari mana saya berasal.
Saya ingin politik yang saya jalankan tetap berpijak pada persoalan nyata masyarakat: petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, masyarakat adat, generasi muda, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi daerah dan masa depan Riau.
Bagi saya, menjadi anggota DPRD bukan sekadar duduk dalam rapat, menerima fasilitas dan menjalankan rutinitas kelembagaan.
Ada tiga tugas yang harus terus dijaga:
Menyuarakan aspirasi rakyat.
Mengawasi jalannya pemerintahan.
Dan memperjuangkan kebijakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Politik Adalah Amanah
Baca: Kabinet Merah Putih Dirombak, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya sebagai Menkeu
Saya menyadari bahwa perjalanan politik saya masih panjang dan tentu tidak sempurna.
Saya pernah berada di satu partai, kemudian berpindah ke partai lain. Tetapi perpindahan kendaraan politik tidak boleh berarti berpindah prinsip.
Prinsip saya tetap:
agama sebagai kompas moral,
rakyat sebagai tujuan pengabdian,
dan Indonesia sebagai rumah besar perjuangan.
Karena itu, saya ingin dikenang bukan karena berapa lama saya memegang jabatan atau berapa banyak posisi yang pernah saya duduki.
Saya ingin dikenang sebagai Edi Basri yang pernah berpolitik dengan niat untuk mengabdi.
Dari KH Zainuddin MZ,Rohimahhullah saya belajar bahwa politik harus dekat dengan nilai agama dan akhlak.
Baca: Cawapres Prabowo 2029 Mulai Dibahas, Sejumlah Nama Mulai Mencuat
Dari pk Prabowo Subianto, saya belajar tentang semangat nasionalisme, keberanian dan kepentingan Indonesia.
Dan dari rakyat Riau, saya belajar bahwa kekuasaan tanpa kebermanfaatan tidak memiliki arti.
Pada akhirnya, jabatan akan berakhir.
Kursi akan berganti.
Partai bisa berubah.
Tetapi amal, perjuangan dan manfaat yang kita tinggalkan kepada masyarakatlah yang akan menjadi catatan sejarah.
Politik bagi saya bukan sekadar tentang siapa yang berkuasa.
Politik adalah tentang untuk siapa kekuasaan itu digunakan.
Dan saya ingin menjawabnya dengan sederhana:
Untuk rakyat.
Untuk Riau.
Untuk Indonesia.
Dan semoga menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Baca: Dedi Mulyadi Dikabarkan Gabung ke PSI, Gerindra Jabar: Itu Masih Dugaan
Pantun Penutup
Pergi ke Tapung membawa rotan,
Singgah sebentar di tepi telaga.
Politik bukan mengejar jabatan,
Tetapi amanah untuk rakyat dan bangsa.
Ke Kampar membawa selasih,
Singgah berteduh di rumah Melayu.
Agama menjadi kompas yang bersih,
Nasionalisme menjadi semangat perjuanganku.
Ke Pekanbaru membeli kain,
Kain Melayu berwarna merah.
KH Zainuddin memberi nilai batin,
Prabowo menguatkan semangat negara.
